Terlalu jauh dan terlalu kompleks bila kita meninjau masalah tersebut dari berbagai sudut keilmuan dan kemungkinan, terlalu banyak waktu juga yang kita habiskan untuk memperdebatkan apa dan siapa yang menjadi penyebab serta dalang dari ini semua. Biarlah para pemimpin dunia menemukan formula-formula efektif berkekuatan politik dan ekonomi tingkat tinggi dalam setiap kesepakatan pertemuan-pertemuan internasional yang khusus membahas dan mencari jalan keluar untuk meminimalisir dan menghentikan pemanasan global tersebut.
Selain itu, peran serta kita sebagai mahluk paling cerdas dan paling berkepentingan serta paling diuntungkan bila pemanasan global dapat diminimalisi atau bahkan dihentikan lajunya sangat di butuhkan. Tidak perlu menunggu program-program pemerintah dan dunia dahulu baru kita memulai ikut berpartisipasi. Sedikit kesadaran dan rasa memiliki alam dan kehidupan di dalamnya dapat memacu kita untuk mulai melakukan langkah-langkah kongkrit dalam mengatasi kerusakan di muka bumi ini. salah satunya dengan ikut menghijaukan kembali bumi ini dengan menanam pohon. Ruang hijau menjadi salah satu indikator primer yang mampu menghambat laju pemanasan global.
Tidak hanya stabilitas alam dan kehidupan saja yang jadi prioritas hasil dari program penghijauan tersebut, penghijauan juga memandang faktor peningkatan ekonomi sebagai salah satu item penting yang harus terpenuhi. Illegal loging yang menjadi salah satu biang kerusakan alam juga terjadi karena dorongan keuntungan secara ekonomi, baik itu oleh para pemegang HPH maupun masyarakat lokal sekitar hutan. Program penghijauan juga harus meletakkan faktor keuntungan di posisi paling atas agar ada balance/timbang untung bagi masyarakat untuk memilih lebih menguntungkan bila melakukan penghijauan atau lebih menguntungkan melakukan penebangan hutan dari sudut pandang ekonomi praktis.
Bagi masyarakat program menghijaukan bumi baik yang di motori oleh pemerintah ataupun lembaga-lembaga non pemerintah lain kebanyakan hanya berprioritas 'yang penting hijau' saja. Keterlibatan masyarakat pun sangat minim dikarenakan formulasi bibit kayu tanaman yang diberikan bernilai ekonomi rendah bahkan nol. Karena itu sering kita temui di lapangan adanya kontradiktif antara program Departemen Kehutanan dengan program Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian. Karena itu konsep menghijaukan bumi mesti di selaraskan dengan cerdas dan profitable.
Budidaya Tanaman Sengon Sebagai Satu Bentuk Investasi Cerdas
Kita bisa mencontoh program cerdas yang di usung Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu dengan program inti 'mau kaya tanam sengon', budidaya tanaman sengon/albasia yang di canangkan pemerintah daerah berdasarkan pertimbangan geologis dan ekonomi terukur. Mengingat sebagian besar masyarakat di Kabupaten Kepahiang adalah petani kopi, maka program peningkatan ekonomi pun di selaraskan dengan kultur budaya agraris petani jenis tanaman perkebunan. Ditambah lagi banyaknya lahan-lahan eks pembalakan liar yang terjadi di dekade 90an terlantar tanpa ditanami kembali. Potensi lahan tinggal dan terlantar yang bila dikalkulasikan mencapai puluhan ribu hektar tersebut menjadi sasaran pokok program, dan mampu mensinergikan antara program Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pemerintah Kabupaten Kepahiang.
Tanaman kayu Sengon/Albasia putih menjadi pilihan dalam program ini, pemerintah daerah sengaja hanya mengusung satu jenis tanaman saja dengan pertimbangan untuk mempermudah sosialisasi dan penyuluhan ke masyarakat tentang bagaimana budidaya tanaman sengon apabila jenis tanaman hanya satu (seragam), walaupun sebenarnya ada beberapa jenis tanaman kayu lain yang juga bernilai ekonomi cukup tinggi selain sengon, sepeerti jati ambon (jambon) dll.
Pemerintah daerah juga membagikan bibit tanaman sengon berkualitas kepada petani, hingga 2012 saja, tidak kurang dari 8 juta bibit telah di bagikan. Target sebenarnya untuk tahun 2012 adalah 10 juta bibit, namun kendala ketersediaan bibit tanaman sengon di Kepahiang yang tidak mencukupi permintaan petani membuat target tersebut tidak maksimal, namun dalam skala global program awal menghijaukan bumi berbasis pemberdayaan ekonomi masyarakat tersebut dapat dikatakan berhasil.
Tentu saja keberhasilan tersebut juga didukung dengan sistem/skema investasi tanaman sengon yang di terapkan pemerintah daerah. Skema investasi yang di beri nama BACK MODEL melibatkan koperasi SATMAKURA sebagai tulang punggung pendanaan, memaksimalkan fungsi koperasi menjadi faktor penentu (akselerator) tercapainya program penanaman pohon massal tersebut. Dalam skema BACK MODEL, petani yang juga pemilik lahan di posisikan sebagai investor dan koperasi sebagai lembaga pembiayaan, didalam skema tersebut juga dilibatkan pihak desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten hingga propinsi serta penyuluh pertanian dan usur terkait dan pendukung lainnya. Bukan hanya berperan sebagai pembimbing, setiap elemen tersebut juga mendapatkan profit dan persentase dari hasil investasi tanaman sengon tersebut yang besaran persentasenya dibagi dengan relevan dan matang.
Program budidaya tanaman sengon dan skema investasi tanaman sengon seperti yang di lakukan pemerintah Kabupaten Kepahiang diatas sebenarnya bisa di tiru dan di contoh oleh daerah-daerah lain, karena dengan pemusatan dan arah program yang terukur dengan jelas dapat menjadi potensi dan peluang yang sayang untuk dilewatkan, sehingga masyarakat pun tergerak untuk melaksanakan program tersebut dan secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam menghijaukan bumi yang kita diami ini.